DIKSI
DIKSI
Makna konotatif dan denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan pemakai bahasa.
Makna-makna konotatif sifatnya lebih
profesional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah
makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan
dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.
Contoh:
ü Rumah
= gedung, wisma, graha
ü Penonton
= pemirsa, pemerhati
ü Dibuat
= dirakit, dibuat
Makna konotatif dan denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan pemakai bahasa.
Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, perasaan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu.
Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.
Semua
bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata yang bermakna konotatif.
Kata-kata idiom atau ungkapan adalah sebagai berikut: keras kepala, panjang tangan, sakit hati.
Makna Umum dan Khusus dalam Diksi
> Kata
umum adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas, kata-kata umum
menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada keseluruhan. Contoh
kata umum: binatang, tumbuh-tumbuhan, penjahat, kendaraan.
> Kata khusus adalah
kata-kata yang mengacu kepada pengarahanpengarahan yang khusus dan konkrit.
Kata khusus memperlihatkan kepada objek yang khusus. Contoh kata khusus:
Yamaha, nokia, kerapu, kakak tua, sedan.
Contoh Kata Umum dan Kata Khusus
Kata umum : Melihat
Kata khusus : Menengok, menyaksikan, melirik, memandang, memelototi,
mengamati, dan memperhatikan.
Kata umum : Membawa
Kata khusus : Mengangkat, menjinjing, menggendong, mengangkut, menyeret,
membopong, memanggul.
Penjelasan Penggunaan Kata Umum dan Khusus
Ayah melihat adiknya yang sedang
dirawat di rumah sakit.
Ayah menengok adiknya yang sedang
dirawat di rumah sakit.
Ayah melirik adiknya yang sedang
sakit di rumah sakit.
Kalimat di atas memiliki makna umum yaitu, melihat, dan kata khusus, seperti menengok, dan melirik. Pada
kalimat pertama, kata umum masih bisa digunakan sesuai dengan konteks kalimat
di atas. Sedangkan pada kalimat ketiga, kata khusus melirik tidaklah sesuai dengan konteks kalimat
tersebut. Kata khusus yang sesuai adalah menengok pada
kalimat kedua.
Contoh Kalimat
1. Mak Ijah harus membelah kayu terlebih dahulu sebelum memasak
nasi.
2. Ibu melihat adik sedang menonton televisi, ayah sedang memeriksa pekerjaan rumahnya, sedangkan kakak
tengah memandangi lukisan yang tergantung di ruang tamu.
3. Budi menginginkan pensil untuk menulis dan penghapus untuk menghapus pekerjaannya, kemudian
ia pergi ke toko alat tulis di dekat rumahnya.
Kata Konkret dan Abstrak
Kata Konkret
Kata konkret yaitu kata yang mempunyai rujukan berupa objek yang dapat
diserap oleh panca indera. Kata konkret memiliki ciri bisa dirasakan, dilihat,
diraba, didengar, dan bisa dicium
Contoh
:
- Sandang
- Pangan
- Rumah
Kata
Abstrak
Kata abstrak adalah
sebuah kata yag memiliki rujukan berupa konsep atau pengertian. Sesuai dengan
namanya kata abstrak lebih memerlukan pendalaman pemahaman, karena sifatnya
yang tidak nyata.
Contoh :
- Kaya
- Miskin
- Kesenian
Sinonim
Sinonim adalah suatu kata yang memiliki
bentuk yang berbeda. Namun, memiliki arti atau pengertian yang sama atau mirip.
Sinonim dapat juga disebut sebagai persamaan kata atau padanan kata.
Contoh :
- Binatang
= Fauna
- Tanaman
= Flora
- Bohong
= Dusta
Ungkapan Idiomatik
Hiponim, Homonim, Homofon
Hipermin dan Hiponim
Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak
kata lain. Kata hipernim dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata
lainnya. Sedangkan hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya
oleh kata hipernim. Umumnya kata-kata hipernim adalah suatu kategori dan
hiponim merupakan anggota dari kata hipernim. Contoh :
1. Hipernim
: Hantu.
Hiponim : Pocong, kantong wewe,
sundel bolong, kuntilanak, pastur buntung, tuyul, genderuwo, suster ngesot, dan
lain-lain.
Homonim
& Homofon
Homonim adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda tetapi
lafal atau ejaan sama. Jika lafalnya sama disebut homograf, namun jika
yang sama adalah ejaannya maka
disebut homofon.
Contoh:
1.
Amplop
(homofon)
ü
Untuk
mengirim surat untuk bapak presiden kita harus menggunakan amplop (amplop = amplop surat biasa)
ü
Agar
bisa diterima menjadi pns ia memberi amplop
kepada para pejabat (amplop = sogokan atau uang pelicin)
Semoga Bermanfaat~
Comments
Post a Comment